Oleh: Kurtubi
Tokoh Masyarakat Tangerang
BantenNet, OPINI – Menjelang penyelenggaraan Kongres Rakyat Banten V, perhatian publik tertuju pada pentingnya sinergi antara Pemerintah Provinsi Banten dengan para penggagas Kongres Rakyat Banten V.
Kongres Rakyat Banten V digagas oleh para pendiri Provinsi Banten, ulama dan akademisi Banten. Mereka adalah bagian dari sejarah 26 tahun perjalanan Provinsi Banten sejak berpisah dari Provinsi Jawa Barat.
Kongres Rakyat Banten V ini diselenggarakan bukan untuk oposisi dengan Pemerintah Provinsi Banten. Tujuannya adalah memberikan pandangan dan masukan kepada Pemerintah Provinsi Banten terkait persoalan-persoalan yang dihadapi di Banten sebagai bentuk tanggung jawab moral.
Oleh karena itu, sudah saatnya Gubernur Banten dan Ketua DPRD Banten membuka ruang dialog yang bermartabat dengan panitia Kongres Rakyat Banten V.
*1. Pentingnya Kepastian Tanggapan Atas Surat Permohonan Audiensi*
Informasi yang berkembang di masyarakat menyebutkan bahwa surat permohonan audiensi yang diajukan oleh panitia Kongres Rakyat Banten V hingga saat ini belum mendapatkan kepastian jadwal.
Dalam tata kelola pemerintahan yang baik, setiap surat dari masyarakat perlu mendapatkan tanggapan resmi berupa kepastian jadwal, meskipun jadwal tersebut masih dalam proses penyesuaian agenda.
Belum adanya kepastian jadwal tentu dapat menimbulkan beragam persepsi di ruang publik. Agar tidak menimbulkan persepsi yang tidak produktif, maka diperlukan tanggapan resmi dan percepatan penjadwalan audiensi.
Hal ini penting karena para penggagas Kongres Rakyat Banten V memiliki nilai historis dan moral yang tinggi bagi Banten.
*2. Membuang Asumsi Bahwa Kongres Rakyat Banten V Adalah Oposisi*
Salah satu hal yang perlu diluruskan bersama adalah asumsi yang keliru jika Kongres Rakyat Banten V dianggap sebagai forum oposisi.
Secara historis, Kongres Rakyat Banten lahir dari perjuangan untuk membentuk Provinsi Banten pada tahun 2000. Tidak mungkin para pendiri Provinsi Banten akan menjadi oposisi terhadap provinsi yang mereka dirikan sendiri.
Secara substansi, Kongres Rakyat Banten V adalah mitra kritis dan mitra moral. Mitra yang ingin memastikan cita-cita awal pembentukan Provinsi Banten yaitu pemerataan kesejahteraan tetap terjaga.
Tidak ada oposisi dalam pemerintahan Provinsi Banten. Yang ada adalah semangat gotong royong membangun Banten.
Jika asumsi oposisi ini dibuang, maka dialog antara Gubernur Banten dengan panitia Kongres Rakyat Banten V akan menjadi dialog yang konstruktif dan saling menguatkan.
*3. Data 26 Tahun Banten Membutuhkan Kebersamaan*
Data Kinerja Pembangunan Daerah Kemendagri Oktober 2026 mencatat ekonomi Banten tumbuh 5,49 persen dengan PDRB Rp 253,09 triliun, kemiskinan 5,3 persen, pengangguran 6,48 persen, dan IPM 77,25.
Data tersebut menunjukkan fondasi pembangunan Banten kuat, namun pekerjaan besar masih menunggu.
Untuk menekan angka pengangguran 6,48 persen dibutuhkan penciptaan lapangan kerja yang lebih luas. Untuk memastikan PDRB Rp 253,09 triliun dirasakan manfaatnya secara merata dibutuhkan strategi pemerataan hingga pesisir dan perdesaan. Untuk meningkatkan IPM 77,25 dibutuhkan penguatan kualitas SDM.
Pekerjaan besar ini tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah sendiri. Dibutuhkan masukan dari para pendiri, ulama dan akademisi yang tergabung dalam Kongres Rakyat Banten V. Inilah mengapa dialog harus segera dibuka.
*4. Dialog Adalah Kekuatan Pemerintah*
Membuka dialog dengan panitia Kongres Rakyat Banten V adalah bukti kepercayaan diri dan kematangan demokrasi Pemerintah Provinsi Banten.
Pertama, dialog akan menghilangkan jarak komunikasi antara pemerintah dengan para pendirinya. Jika Gubernur Banten Andra Soni dan Ketua DPRD Banten duduk bersama dengan para pendiri Provinsi Banten, maka pesan yang diterima publik adalah kebersamaan.
Kedua, dialog akan menghasilkan kebijakan yang lebih berakar. Masukan dari ulama dan akademisi yang hidup bersama masyarakat akar rumput akan membuat kebijakan pemerintah lebih diterima dan lebih efektif.
Ketiga, dialog akan memperkuat legitimasi moral pembangunan. Gubernur memiliki legitimasi politik dan hukum, para pendiri memiliki legitimasi moral dan historis. Jika keduanya bersatu, pembangunan Banten akan berjalan lebih kokoh.
*Rekomendasi Konstruktif*
1. Gubernur Banten dan Ketua DPRD Banten segera memberikan tanggapan resmi berupa kepastian jadwal audiensi dengan panitia Kongres Rakyat Banten V.
2. Menegaskan bahwa Kongres Rakyat Banten V bukan oposisi, melainkan mitra strategis dan mitra moral dalam pembangunan Banten 26 tahun.
3. Menjadikan hasil rekomendasi Kongres Rakyat Banten V sebagai bahan masukan resmi dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah RPJMD dan RKPD untuk pemerataan manfaat melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan nilai tambah investasi, penguatan kualitas SDM, dan pemerataan hasil pembangunan di kawasan perkotaan, industri, pesisir, maupun perdesaan.
26 tahun Banten adalah usia matang. Di usia matang ini yang dibutuhkan bukan jarak, melainkan kebersamaan.
Sudah saatnya pintu dialog dibuka lebar. Sudah saatnya Gubernur Banten dan Ketua DPRD Banten bersama para pendiri Provinsi Banten, ulama dan akademisi duduk dalam satu forum yang bermartabat untuk membahas masa depan Banten.
Banten milik kita semua. Membangun Banten membutuhkan semua tangan, semua pikiran, dan semua doa dari para pendirinya.













