banner 468x60
Banten RayaPeristiwa

Alat Berat Rusak, Antrean Mengular, TPA Jatiwaringin Jadi Sorotan

13
banner 468x60

BantenNet, TANGERANG – Puluhan sopir pengangkut sampah yang beroperasi di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, mengeluhkan buruknya tata kelola TPA yang dinilai semakin mempersulit pekerjaan mereka. Panjangnya antrean kendaraan hingga mengular di akses jalan menuju lokasi pembuangan menjadi keluhan utama para sopir.

Kondisi tersebut diperparah dengan rusaknya sejumlah alat berat serta minimnya fasilitas pendukung di TPA Jatiwaringin. Akibatnya, proses pembuangan sampah berjalan lambat dan menyebabkan antrean kendaraan berlangsung berjam-jam bahkan hingga berhari-hari.

banner 300x600

Pemerhati kebijakan pemerintah, Nurdin Kurniawan, SH, meminta Pemerintah Kabupaten Tangerang untuk segera mengambil langkah konkret guna memperbaiki kondisi TPA Jatiwaringin dan memperhatikan nasib para sopir pengangkut sampah.

” Tata kelola TPA Jatiwaringin sangat amburadul. Antrean kendaraan sering mengular sepanjang jalan. Selain itu, banyak alat berat dan fasilitas di TPA yang sudah tidak berfungsi dengan baik,” ujar Nurdin, Rabu (3/6/2026).

Menurutnya, para sopir selama ini tidak hanya menghadapi beban kerja yang semakin berat, tetapi juga harus menanggung sendiri biaya perawatan kendaraan akibat tingginya intensitas operasional.

“Kami sering mengeluarkan biaya pribadi untuk mengganti suku cadang dan memperbaiki kendaraan tanpa adanya dukungan anggaran. Semua itu kami lakukan demi pelayanan kepada masyarakat. Namun jika kondisi ini terus dibiarkan, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan maupun Pemkab Tangerang seolah menutup mata terhadap nasib para sopir,” tegasnya.

Nurdin mendesak dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan TPA Jatiwaringin, termasuk kinerja pegawai dan sistem pengelolaan di lingkungan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Tangerang.

“Kami hanya meminta evaluasi total, baik terhadap pengelola TPA maupun dinas terkait. Jangan sampai slogan pembangunan yang selama ini digaungkan hanya menjadi pemanis tanpa bukti nyata di lapangan,” katanya.

Keluhan serupa disampaikan salah seorang sopir pengangkut sampah yang akrab disapa Doyok. Ia menilai minimnya perhatian dari DLHK Kabupaten Tangerang serta banyaknya alat berat yang rusak menjadi penyebab utama panjangnya antrean kendaraan di TPA Jatiwaringin.

“Selain alat berat banyak yang rusak, kondisi jalan di dalam TPA juga masih rusak parah. Tata kelola yang tidak maksimal membuat kami harus menginap di lokasi hanya untuk menunggu giliran membuang sampah,” ungkapnya.

Doyok berharap pemerintah segera melakukan pembenahan serius terhadap fasilitas dan sistem operasional TPA. Menurutnya, para sopir selama ini harus menghadapi kenaikan biaya distribusi yang mencapai dua kali lipat, sementara pelayanan dan pengelolaan di lapangan tidak mengalami perbaikan yang signifikan.

“Kami bekerja dengan ikhlas melayani masyarakat. Tetapi pemerintah juga harus hadir dan memperhatikan kondisi kami. Jangan sampai sopir terus dibebani biaya operasional dan perbaikan kendaraan sendiri akibat buruknya pengelolaan TPA,” pungkasnya.

Keluhan para sopir ini menjadi sinyal kuat bahwa persoalan di TPA Jatiwaringin tidak lagi sekadar masalah teknis, melainkan sudah menyangkut efektivitas pelayanan publik yang berpotensi mengganggu sistem pengelolaan sampah di Kabupaten Tangerang secara keseluruhan. Pemerintah Kabupaten Tangerang dinilai perlu segera melakukan pembenahan menyeluruh sebelum persoalan ini semakin berdampak luas terhadap pelayanan kebersihan masyarakat.

> ldn

banner 300250
banner 468x60
Exit mobile version