banner 468x60
Opini

KH EMBAY MULYA SYARIEF LAYAK DIJADIKAN PENASEHAT AHLI KAPOLRI : SINERGI ULAMA, JAWARA DAN POLRI UNTUK STABILITAS NASIONAL

14
Tokoh Banten KH Embay Mulya Syarief (dok. foto: BantenNet)

Oleh: Kurtubi
Tokoh Masyarakat Tangerang

BantenNet, OPINI – Wacana KH Embay Mulya Syarief layak untuk dijadikan sebagai Penasehat Ahli Kapolri adalah wacana yang rasional dan memiliki dasar sosiologis, kultural, dan strategis yang kuat.

Di tengah tantangan keamanan nasional yang semakin kompleks, Polri membutuhkan sosok penasehat ahli yang tidak hanya memahami teori keamanan, tetapi juga memiliki akar sosial yang kuat di masyarakat, khususnya di Banten yang dikenal sebagai tanah Jawara dan tanah Ulama.

1. Siapa KH Embay Mulya Syarief, Modal Sosial dan Moral yang Lengkap

KH Embay Mulya Syarief bukan sekadar tokoh agama biasa. Beliau memiliki tiga modal utama yang sangat relevan dengan kebutuhan Polri saat ini.

Pertama, ulama yang Suaranya didengar oleh masyarakat Banten hingga tingkat akar rumput.

Kedua, tokoh jawara Banten. Beliau adalah jembatan antara dunia ulama dan dunia jawara, dua kekuatan kultural utama di Banten yang selama ini menjadi penentu stabilitas sosial.

Ketiga, tokoh pemersatu dan penengah konflik. Dalam banyak peristiwa sosial di Banten, KH Embay sering tampil sebagai penengah yang mampu meredam konflik horizontal antara masyarakat, antara kelompok jawara, maupun antara masyarakat dengan pemerintah.

Modal sosial inilah yang tidak dimiliki oleh banyak akademisi keamanan. Polri membutuhkan figur yang bisa menerjemahkan bahasa negara ke bahasa rakyat dan sebaliknya.

2. Mengapa Polri Membutuhkan Penasehat Ahli dari Kalangan Ulama Jawara Seperti KH Embay?

Polri saat ini menghadapi tantangan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan penegakan hukum represif.

a. Tantangan Deradikalisasi dan Pencegahan Konflik Sosial.

Banyak konflik sosial di Indonesia berakar dari kesalahpahaman agama dan budaya. Kehadiran ulama seperti KH Embay sebagai Penasehat Ahli Kapolri akan memperkuat strategi Polri dalam melakukan pendekatan kultural dan religius dalam mencegah radikalisme, intoleransi, dan konflik horizontal. Fatwa dan nasihat ulama seringkali lebih efektif daripada surat edaran kepolisian.

b. Tantangan Keamanan Kawasan Industri dan Objek Vital Nasional.

Banten adalah kawasan dengan objek vital nasional yang sangat banyak. Mulai dari industri baja dan petrokimia di Cilegon, PLTU Suralaya, Kilang Pertamina, hingga Pelabuhan Merak. Keamanan objek-objek ini tidak hanya bergantung pada penjagaan fisik, tetapi juga pada kondusifitas sosial masyarakat sekitar. Sebagai tokoh yang sangat dihormati oleh masyarakat dan jawara Banten, KH Embay memiliki kemampuan untuk menjaga kondusifitas tersebut.

c. Tantangan Membangun Kepercayaan Publik.

Polri saat ini sedang gencar melakukan reformasi untuk membangun kepercayaan publik. Kehadiran ulama yang di hormati sebagai Penasehat Ahli akan menjadi jembatan moral yang memperkuat legitimasi Polri di mata umat Islam dan masyarakat Banten pada khususnya serta masyarakat Indonesia pada umumnya.

3. Relevansi dengan Pembangunan Daerah dan Stabilitas Nasional

Data Kinerja Pembangunan Daerah Kemendagri Oktober 2026 mencatat ekonomi Banten tumbuh 5,49 persen dengan PDRB Rp 253,09 triliun, kemiskinan 5,3 persen, pengangguran 6,48 persen, dan IPM 77,25. Angka ini menunjukkan Banten adalah provinsi yang strategis secara ekonomi, tetapi masih membutuhkan stabilitas untuk pemerataan manfaat.

Stabilitas keamanan di Banten akan sangat menentukan stabilitas ekonomi nasional. Jika ada tokoh seperti KH Embay yang menjadi Penasehat Ahli Kapolri, maka sinergi antara Polri, ulama, jawara, dan pemerintah daerah akan semakin kuat.

4. Penasehat Ahli Kapolri, Peran Strategis yang Tepat

Perlu dipahami, Penasehat Ahli Kapolri bukanlah jabatan struktural operasional Polri. Penasehat Ahli adalah jabatan fungsional yang memberikan masukan, nasihat, dan pertimbangan berbasis keahlian dan pengalaman sosial kepada Kapolri dalam mengambil kebijakan strategis.

Beliau akan memberikan masukan pada aspek:

  1. Pemetaan potensi konflik sosial berbasis kearifan lokal Banten.
  2. Strategi komunikasi antara Polri dengan ormas Islam, pesantren, dan paguron jawara.
  3. Pendekatan kultural dalam pengamanan agenda nasional di wilayah Banten dan sekitarnya.
  4. Penguatan nilai-nilai kebangsaan yang bersinergi dengan nilai keislaman dan kebudayaan lokal.

Wacana KH Embay Mulya Syarief layak dijadikan Penasehat Ahli Kapolri adalah wacana yang konstruktif dan layak didukung.

Beliau memiliki legitimasi ulama, legitimasi jawara, dan legitimasi pemersatu. Tiga legitimasi ini sangat dibutuhkan Polri untuk memperkuat pendekatan humanis, kultural, dan religius dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.

Jika Polri ingin semakin dekat dengan rakyat, maka merangkul ulama jawara seperti KH Embay Mulya Syarief sebagai Penasehat Ahli adalah langkah strategis yang tepat. Ini bukan hanya untuk kepentingan Banten, tetapi untuk kepentingan stabilitas nasional.

Exit mobile version