banner 468x60
Banten RayaRagam

Sampah Menggunung, Kesadaran Warga Dipertanyakan: “Kabupaten Tangerang Tidak Bisa Bersih Jika Warganya Masih Abai”

21
banner 468x60

Oleh: Kurtubi
Pemerhati dan Aktivis Lingkungan

BantenNet, TANGERANG – Persoalan sampah di Kabupaten Tangerang kembali menjadi sorotan. Tumpukan sampah di pinggir jalan, selokan yang tersumbat, hingga aliran sungai yang dipenuhi limbah rumah tangga menjadi pemandangan yang semakin sulit diabaikan. Ironisnya, masalah ini terus berulang meski berbagai upaya penanganan telah dilakukan pemerintah daerah.

banner 300x600

Di tengah kondisi tersebut, muncul satu pertanyaan mendasar: apakah masyarakat sudah benar-benar menyadari bahwa sampah yang mereka hasilkan adalah tanggung jawab mereka sendiri?

Selama ini masih banyak warga yang berpikir bahwa urusan sampah sepenuhnya menjadi kewajiban pemerintah, Dinas Lingkungan Hidup, atau petugas kebersihan. Alasannya sederhana: masyarakat merasa sudah membayar pajak dan retribusi kebersihan. Padahal, pola pikir seperti itulah yang dinilai menjadi akar persoalan lingkungan yang tidak kunjung selesai.

Pemerintah memang memiliki kewajiban menyediakan layanan pengelolaan sampah. Namun sebesar apa pun anggaran yang digelontorkan, sebanyak apa pun armada pengangkut yang disediakan, semuanya tidak akan pernah cukup jika perilaku masyarakat masih membuang sampah sembarangan.

Realitas di lapangan menunjukkan bahwa sampah rumah tangga masih banyak dibuang ke pinggir jalan, saluran air, bahkan sungai. Dampaknya tidak sederhana. Sampah yang menumpuk menjadi penyebab utama tersumbatnya drainase, memicu banjir saat musim hujan, menimbulkan bau tak sedap, hingga menjadi sarang penyakit.

Lebih dari itu, sampah yang dibuang sembarangan sejatinya adalah masalah yang sengaja diwariskan kepada lingkungan dan generasi berikutnya.

Karena itu, perubahan cara pandang masyarakat dinilai menjadi langkah paling penting dalam menyelesaikan krisis sampah di daerah. Kesadaran harus dimulai dari hal paling sederhana, yakni memahami bahwa setiap sampah berasal dari aktivitas manusia sendiri.

Masyarakat juga didorong mulai membiasakan pemilahan sampah dari rumah, memisahkan sampah organik dan anorganik agar lebih mudah diolah dan didaur ulang. Langkah kecil seperti menyimpan sampah hingga menemukan tempat pembuangan yang benar juga dinilai jauh lebih penting dibanding terus menyalahkan pemerintah.

Selain itu, budaya penggunaan barang sekali pakai perlu mulai dikurangi. Semakin banyak konsumsi plastik dan kemasan instan, semakin besar pula beban lingkungan yang harus ditanggung bersama.

Dalam pandangan pemerhati lingkungan, petugas kebersihan bukan “penyelamat” atas kebiasaan buruk masyarakat. Mereka hanya bagian dari sistem yang membantu mengangkut sampah yang seharusnya sudah dikelola dengan benar oleh warga.

Kebersihan sebuah daerah pada akhirnya menjadi cermin kedisiplinan dan peradaban masyarakatnya sendiri.

Kabupaten Tangerang tidak akan pernah benar-benar bersih jika kesadaran warga masih rendah. Karena itu, perubahan tidak bisa lagi ditunda dan tidak boleh hanya menunggu tindakan pemerintah semata.

Masyarakat perlu mulai bertindak dari lingkungan terkecil: rumah sendiri.

Sebab lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman bukan hanya hak bersama, tetapi juga lahir dari kewajiban bersama.

“Sampah Kita, Tanggung Jawab Kita.”

banner 300250
banner 468x60
Exit mobile version