banner 468x60
Banten RayaPeristiwa

TPA Jatiwaringin Terbakar, Pemerhati Lingkungan Desak Evaluasi Total Sistem Pengelolaan Sampah

24

BantenNet, TANGERANG – Kebakaran yang terjadi di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, diduga dipicu oleh lemahnya pengawasan dan pengelolaan sampah di lokasi tersebut. Peristiwa ini kembali menjadi sorotan publik karena berulangnya insiden kebakaran di kawasan penampungan sampah yang berpotensi menimbulkan dampak lingkungan dan kesehatan bagi masyarakat sekitar.

Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang, kebakaran dilaporkan terjadi sekitar pukul 11.00 WIB. Asap tebal membumbung tinggi dari area gunungan sampah dan terlihat dari jarak yang cukup jauh.

Untuk menangani kejadian tersebut, BPBD Kabupaten Tangerang mengerahkan enam unit mobil pemadam kebakaran dan 30 personel ke lokasi guna melakukan upaya pemadaman serta mencegah api meluas ke area lainnya.

“Untuk saat ini masih dalam penanganan,” ujar petugas Pusdalops BPBD Kabupaten Tangerang saat dikonfirmasi.

Petugas pemadam yang tiba di lokasi menghadapi kendala cukup berat karena titik api berada di tengah tumpukan sampah dengan kedalaman tertentu. Kondisi tersebut membuat proses pemadaman menjadi lebih sulit dan membutuhkan waktu lebih lama untuk memastikan api benar-benar padam.

Berdasarkan rekaman video yang diterima dari Pusdalops BPBD, terlihat kobaran api muncul dari area gunungan sampah disertai kepulan asap hitam pekat yang membumbung tinggi ke udara. Situasi tersebut menimbulkan kekhawatiran akan dampak pencemaran udara bagi masyarakat di sekitar lokasi.

Menanggapi peristiwa tersebut, aktivis Pantura yang juga sebagai aktivis Pemerhati Kebijakan Lingkungan, Mustajib, menilai kebakaran di TPA Jatiwaringin tidak boleh dianggap sebagai kejadian biasa. Menurutnya, insiden tersebut merupakan indikasi adanya persoalan dalam sistem pengelolaan dan pengawasan sampah yang harus segera dievaluasi.

“Kebakaran di TPA bukan hanya persoalan teknis pemadaman api. Ini menunjukkan adanya kelemahan dalam pengawasan, pengelolaan, dan mitigasi risiko di lokasi pembuangan sampah. Pemerintah daerah harus melakukan evaluasi menyeluruh agar kejadian serupa tidak terus berulang,” tegas Mustajib, Selasa 30 Juni 2026.

Ia menjelaskan, tumpukan sampah yang tidak dikelola dengan baik berpotensi menghasilkan gas metana yang mudah terbakar, terutama saat cuaca panas dan kondisi sampah mengering. Karena itu, pengawasan rutin serta penerapan sistem pengelolaan yang sesuai standar menjadi hal yang sangat penting.

Lebih lanjut, Mustajib yang akrab di panggil Ajuk, meminta instansi terkait untuk mengusut penyebab kebakaran secara transparan dan menyampaikan hasilnya kepada masyarakat. Ia juga mendorong adanya peningkatan sarana pengamanan serta sistem deteksi dini di kawasan TPA guna meminimalkan risiko kebakaran di masa mendatang.

“Perlu ada langkah konkret, bukan hanya penanganan setelah kebakaran terjadi. Pengawasan harus diperketat, pengelolaan sampah harus diperbaiki, dan sistem pencegahan harus menjadi prioritas agar lingkungan serta kesehatan masyarakat tetap terlindungi,” tambahnya.

Hingga berita ini diturunkan, petugas masih terus melakukan upaya pemadaman dan melokalisasi titik api agar tidak merambat ke area lain di TPA Jatiwaringin. Sementara itu, penyebab pasti kebakaran dan besaran kerugian yang ditimbulkan masih dalam proses penyelidikan pihak berwenang.

> ldn

Exit mobile version