Oleh : Kurtubi
Mantan Aktivis 98
BantenNet, TANGERANG – Ah, sungguh indah dan mengharukan kisah persahabatan ini! Dulu berpegangan tangan erat-erat di atas panggung kampanye, bersumpah setia membangun Tangerang bagaikan satu tubuh yang tak terpisahkan. Kini? Wahai warga Tangerang, bersiaplah menyaksikan pertunjukan drama terpanjang, terpanas, dan paling menghibur yang pernah dipentaskan di gedung pemerintahan kita!
*DULU BERSAMA-SAMA MEMINTA SUARA, KINI BERSAMA-SAMA MEMBURU KURSI
Siapa sangka, pasangan yang dulu berjanji “satu hati, satu cita, tidak akan berpisah sampai maut memisahkan” ternyata hanya bertahan sampai aroma kursi kekuasaan mulai tercium. Belum genap masa jabatan pun, sudah tercium bau persaingan yang lebih tajam daripada bau ikan asin di pelabuhan Tangerang Utara.
Konon kabarnya, Pak Bupati mulai merasa bahwa kursi yang didudukinya itu terlalu sempit untuk dibagi dua. Sementara si Wakil? Mulai merasa bahwa ia bukan wakil, melainkan sekadar hiasan dinding, pelengkap foto kenangan, dan pengisi jadwal saat Bupati sedang sibuk mengurus urusan yang “lebih penting”.
Padahal coba lihat kalender: Tahun 2029! Ya ampun, sudah terbayang jelas di pelupuk mata: Ada satu kursi besar yang akan diperebutkan, dan sayangnya, satu kursi itu tidak bisa diduduki oleh dua orang sekaligus. Maka mulailah perang dingin yang luar biasa halusnya:
– Bupati perlahan mulai “lupa” mengundang wakilnya dalam rapat penting, seolah-olah wakil itu sudah pindah tugas ke bulan.
– Wakil pun tidak kalah cerdik, diam-diam mulai membangun istana pasir sendiri, menyapa tokoh masyarakat, menyebar senyum manis, dan menyusun daftar pendukung rahasia — seolah-olah sedang menyiapkan pesta kemenangan jauh-jauh hari.
– Keduanya sama-sama berpura-pura tidak terjadi apa-apa di depan umum, saling memberi salam ramah, padahal di dalam hati masing-masing sudah terucap: “Tunggu saja sampai 2029 nanti, kita lihat siapa yang akan duduk di atas dan siapa yang terlempar ke bawah!”
*BIROKRASI YANG BERUBAH MENJADI LAPANGAN TEMBAKAN
Tentu saja, siapa yang paling menderita dari sandiwara indah ini? Bukan Pak Bupati, bukan pula si Wakil. Tapi rakyat kecil, para pegawai, dan urusan pembangunan Kabupaten Tangerang yang terkatung-katung di tengah perseteruan ini.
Begitu indahnya suasana kerja sekarang:
– Kalau Bupati memberi perintah ke arah utara, maka si Wakil diam-diam menggerakkan pasukannya ke arah selatan — dengan alasan yang sangat “mulia” dan penuh istilah birokrasi yang sulit dimengerti rakyat jelata.
– Proyek yang disukai si Wakil, tiba-tiba saja mendapat kendala berbelit-belit di meja Bupati: Ada saja alasan anggaran belum siap, kajian belum tuntas, atau tata ruang belum sinkron.
– Sebaliknya, kebijakan kesayangan Bupati, entah kenapa selalu mendapat hambatan tak kasat mata dari lingkaran wakilnya — seolah-olah kebijakan itu lebih berbahaya daripada banjir besar yang sering melanda wilayah kita.
– Para kepala dinas? Mereka bagaikan penari di atas paku, bingung harus menurut perintah siapa, takut salah langkah sampai kehilangan kursi, akhirnya memilih diam saja dan membiarkan segala urusan berjalan lambat bagaikan siput sedang berjalan menanjak.
*RAHASIA DI BALIK TABIR: BUKAN SOAL PRIBADI, TAPI SOAL KURSI EMAS
Janganlah kita tertipu, wahai warga Tangerang! Perseteruan ini sama sekali bukan karena perbedaan pendapat tentang cara membangun jalan, mengurus sawah, atau melindungi tambak. Sama sekali bukan! Itu hanya kedok yang sangat halus.
Intinya satu saja: Siapa yang akan menjadi Raja Tunggal di Tangerang pada tahun 2029 nanti?
– Bupati berpikir: *“Ini wilayahku, aku yang memegang kendali, sudah sepantasnyalah aku yang maju kembali dan memegang kendali lima tahun lagi.”*
– Wakil pun tak mau kalah: *“Aku pun punya andil besar saat pemilihan dulu, aku pun punya pengikut setia, sudah saatnya aku maju ke depan dan membuktikan bahwa aku lebih pantas memegang kendali daripada yang sekarang.”*
Maka mulailah perebutan pengaruh: Siapa yang bisa menguasai dinas ini, siapa yang bisa mengendalikan aliran dana itu, siapa yang bisa menggaet dukungan tokoh di kecamatan ini — semuanya dihitung cermat, bukan untuk kesejahteraan rakyat, melainkan untuk menumpuk modal kekuasaan demi perang besar di tahun 2029. Sungguh sebuah persiapan yang sangat mulia, bukan?
















